PAGI BEREMBUN

11 03 2008

padi.jpgWaktu kecil dulu …. sekitar tahun 80 an, ibuku sangat menyayangi aku. Aku sekolah di sebuah sekolah dasar di kampungku namanya SDN Dukuh II. Karena jaraknya cukup jauh ± 3 km dan harus melewati sawah dan sungai maka saya dan teman-teman tetanggaku berangkat ke sekolah jam 06.00 pagi. Bisa dibayangkan kalo dihitung mundur, berarti saya harus mulai sarapan jam 05.30 an, bangun paling lambat jam 05.00. soal bangun sih kita-kita sekeluarga emang dijamin pagi karena bapak saya mengarahkan speaker masjid lurus ke rumahku yang hanya berjarak sepuluh meter dari mesjid. Kita sekeluarga selalu ke masjid kecuali ibuku. Oh ya, waktu itu hanya ibuku yang wanita dirumahku. Karena gak ke masjid ibuku memasak untuk sarapan pagi. Kalo saya perhatikan ibuku selalu bangun sebelum adzan subuh, (biar anak-anaknya gak telat ke sekolah, biar bapakku gak kesiangan ke kantor, ”begitu alasan ibu bila kutanya, mulia banget pengabdianmu ibu”)

Masih sangat pagi, embun masih pekat. Jika berlari bisa dipastikan baju akan basah oleh embun. kalo gak basah karena embun, nantinya pasti basah juga karena harus menerabas sawah yang kadang-kadang tanaman padinya lebih tinggi dari kepala si Amat temanku yang paling tinggi waktu itu. Nah lolos dari sawah-sawah itu aku harus menyeberangi sungai Genggong yang membelah desaku menjadi dua. Kalo pas kalinya banjir ya harus copot celana, kalo baju kan bisa diangkat ke atas…. he he . yang bareng adiknya ya harus gendong. Jangan tanya sepatu, karena waktu itu sepatu gak wajib di sekolahku, asal pake alas kaki aja sudah bisa. Sepatu favorit saya yang bahanya dari karet, jadi pas lewat sungai sekalian dicuci gak usah dicopot.

Yang aku ingat sekolahku kayaknya sebagian dibangun oleh murid2 disitu, bukan ditarik uang gedung tapi lebih sering kalo hari sabtu kita disuruh bawa bakul atau ember untuk kerja bakti ngangkutin pasir dan batu dari sungai untuk menguruk halaman sekolah, jalan sekeliling sekolah, atau bahkan untuk material memperbaiki gedung. Kita gak pernah mengeluh karena habis itu ada guru yang akan mendongeng buat kita.

Itu cerita tahun 80 an, sekarang aku dah lama gak nengok sekolahku, apakah masih ada yah?. Teman2 ku siswanto, dasi, amat, roshid….. where are uuuuu…





CERITA TEMANKU

20 02 2008

Margarita: Bikin Ceria atau Sengsara ?

INI ADALAH CERITA TEMANKU YANG ADA AKU

PAK TRIDJOKO:

Ini salah satu cerita favorit yang selalu saya ceritakan ke teman-teman atau mahasiswa saya..

Konon di sekitar tahun 1999, saya membimbing skripsi dua mahasiswi yang saya lupa namanya. Cuman ingat wajah dan perawakannya yang tidak terlalu tinggi. Kalau tidak salah mereka menulis skripsi tentang Sistem Informasi Restoran..

Dari ngobrol-ngobrol, saya tahu bahwa keduanya di waktu senggang juga bekerja di Restoran Mexico yang terkenal di Jakarta, yaitu Ch***.

“O, itu yang di gedung Sarinah ? Dekat dong, dengan tempat saya bekerja. Hanya satu blok lah”, tanya saya..

“Bukan pak, saya bekerja bukan di Ch*** Sarinah, tapi yang di jalan Cikini Raya”, jelasnya..

“Oooo….”, kata saya tanpa tahu apa maksud Ooo itu apa..

Singkat kata, kedua mahasiswi tadi menjalani ujian pendadaran skripsi dengan hasil sukses. Tidak sukses-sukses amat, dapat B. Lumayan lah.

Dengan wajah cerah besoknya keduanya menghadap saya. Waktu itu belum banyak hp, jadi mereka datang tanpa appointment…

“Ini pak, kami menyampaikan sesuatu sebagai tanda terima kasih”, kata mereka.

“Lho, apa ini ? Saya tidak bisa menerima lho kalau sebelum kalian ujian skripsi”, kata saya beralasan.

“Lho kami kan sudah lulus, pak”, jawabnya..

Lalu keduanya memberi saya 3 kupon untuk menjajal makanan Mexico di Ch*** tadi. Saya juga nggak nanya mengapa memberi 3 kupon, bukan 1 untuk saya sendiri. Mungkin saya diminta mengajak makan kedua anak saya, pikir saya.

“Ini hanya berlaku 1 bulan lho pak, jadi cepat dimanfaatkan”, pesannya..

“Ok, no problemo amigo !”, kata-kata yang Pak Tri Djoko banget..

Tak terasa 29 hari berlalu sejak saya menerima kupon atau voucher tadi. Usia tinggal 1 hari lagi. Untung saya ingat. Sayapun mengajak 2 teman akrab saya dari BPPT yaitu Pak Syaeful Karim dan Pak Hamdani.

“Ayo Foel, Ham, kita kime-kime di Ch***. Lu bedua kan belon penah ngrasain makanan Mexico kan ? Paling lu biasanya makan pepes ama pecel”, ajakan plus sindiranku mengingat mereka dari Bandung dan Magetan..

“Siip pak, ayo kita berangkat”, kata Cak Ham yang lebih tinggi tapi lebih muda..

Singkat kata, sampailah saya di Ch*** Sarinah. Si manager restoran kebetulan seorang perempuan berwajah setengah Latino tapi ramah sekali. Menyapa “selamat siang” dan “Silahkan mencari tempat duduk, bapak mau yang smoking atau non smoking section ?”, tanyanya.

“Non smoking aja”, kata saya. “Eh mbak, pakai voucher boleh kan ? Nanti kalau kurang saya pakai kartu kredit aja”, tanyaku mengingat 1 kupon nominalnya cuman Rp 50,000.

Saya melihat Daftar Menu yang aduhai. Sayapun manggil mbak tadi, “Mbak, boleh nggak saya memfotocopy menu ini. Wah ini bagus sekali dan informatif sekali lho mbak”, kataku sedikit merayu..

“Oo..kita sudah sediakan versi kecilnya kok pak. Just in case ada customer yang mau seperti bapak ini”, katanya..

Saya memesan “grilled potatoe” dengan “chicken fajita”, makanan Mexico kesukaan saya.

“Sammmmaaa, saya juga pengin yang itu”, kata Cak Ham dan Kang Ifoel hampir berbarengan.

“Untuk minumnya, apa pak ?”, tanya si mbak. “Saya blue margarita saja”, jawab saya merefer ke sejenis minuman Mexico yang amat sangat populer di New York yang memang berwarna biru muda dan berasal dari air pelepah sejenis pohon kelapa ini..

“O, kita nggak punya blue margarita pak, adanya margarita saja dan warnanya merah”, jelas si mbak. Sayapun mahfum karena di New York sendiri emang kekurangan air getah margarita yang berwarna biru muda ini karena jenis minuman ini sudah sangat populer di bar dan kafe dari Miami sampai New York, serta dari San Diego sampai San Fransisco.

“Ya deh saya margarita saja. Untuk bapak berdua ini bikinkah Fruit Punch saja”, perintah saya ke si mbak sambil nyadar bahwa Cak Ham dan Kang Ifoel kadar agamanya lebih kental dari saya dan mereka pasti tidak mau minum yang sedikit mengandung alkohol seperti margarita.

“O..o..nggak..nggak mbak, saya juga pengin minuman seperti yang dipesan Pak Tri Djoko”, kata salah satu dari antara mereka, sayapun lupa itu Cak Ham atau Kang Ifoel..

Singkat kata, makanan dan minumanpun dihidangkan setelah menunggu sekitar 15 menit. Seingat saya, kami makan dengan lahap dan minum dengan ceria. Semua senang. Makan gratis, siapa tak senang..

Ternyata bill-nya kelebihan Rp 15,000. Saya akhirnya bayar cash, tidak jadi pakai kartu kredit lha wong cuman segitu..

Kami bertigapun keluar dari gedung Sarinah dan melenggang menuju kantor yang berjarak 1 blok dan panas sangat terik itu..

Sayapun berjalan lurus, tapi saya perhatikan kedua teman akrab saya tadi sempoyongan….

“Wah, kepalaku kok sedikit pening ya”, kata Cak Ham sambil jalan sedikit miring…

“Saya juga”, kata Kang Ifoel nimpali, diapun berjalan zig-zag..

Saya hanya bisa tersenyum. Salah sendiri, dikasih Fruit Punch yang “aman”, kenapa milih Margarita pula, pikirku dalam hati…

Saya masih terus tersenyum, menyaksikan kedua teman saya bagaikan main di film Jacky Chan “The Drunken Master”..

Ha..ha..ha





RUMPUT LAUT

18 02 2008

Rumput laut adalah salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah Euchema cottonii dan Gracelaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.Rumput Laut Gracilaria yang sedang di jemur di pinggir tambak





STUDI KELAYAKAN USAHA

18 02 2008

Bagi yang mau tau bagaimana menulis sebuah study kelayakan usaha yang sederhana

studi-kelayakan-usaha.doc





Foto dengan Teman2ku

18 02 2008

Mejeng di Pinggir Laut Di ujung Jembatan Pail PLTGU Muara Tawar

(dari ki ka: Dui, Ai, Aku, Pancat)