20
Feb
08

CERITA TEMANKU

Margarita: Bikin Ceria atau Sengsara ?

INI ADALAH CERITA TEMANKU YANG ADA AKU

PAK TRIDJOKO:

Ini salah satu cerita favorit yang selalu saya ceritakan ke teman-teman atau mahasiswa saya..

Konon di sekitar tahun 1999, saya membimbing skripsi dua mahasiswi yang saya lupa namanya. Cuman ingat wajah dan perawakannya yang tidak terlalu tinggi. Kalau tidak salah mereka menulis skripsi tentang Sistem Informasi Restoran..

Dari ngobrol-ngobrol, saya tahu bahwa keduanya di waktu senggang juga bekerja di Restoran Mexico yang terkenal di Jakarta, yaitu Ch***.

“O, itu yang di gedung Sarinah ? Dekat dong, dengan tempat saya bekerja. Hanya satu blok lah”, tanya saya..

“Bukan pak, saya bekerja bukan di Ch*** Sarinah, tapi yang di jalan Cikini Raya”, jelasnya..

“Oooo….”, kata saya tanpa tahu apa maksud Ooo itu apa..

Singkat kata, kedua mahasiswi tadi menjalani ujian pendadaran skripsi dengan hasil sukses. Tidak sukses-sukses amat, dapat B. Lumayan lah.

Dengan wajah cerah besoknya keduanya menghadap saya. Waktu itu belum banyak hp, jadi mereka datang tanpa appointment…

“Ini pak, kami menyampaikan sesuatu sebagai tanda terima kasih”, kata mereka.

“Lho, apa ini ? Saya tidak bisa menerima lho kalau sebelum kalian ujian skripsi”, kata saya beralasan.

“Lho kami kan sudah lulus, pak”, jawabnya..

Lalu keduanya memberi saya 3 kupon untuk menjajal makanan Mexico di Ch*** tadi. Saya juga nggak nanya mengapa memberi 3 kupon, bukan 1 untuk saya sendiri. Mungkin saya diminta mengajak makan kedua anak saya, pikir saya.

“Ini hanya berlaku 1 bulan lho pak, jadi cepat dimanfaatkan”, pesannya..

“Ok, no problemo amigo !”, kata-kata yang Pak Tri Djoko banget..

Tak terasa 29 hari berlalu sejak saya menerima kupon atau voucher tadi. Usia tinggal 1 hari lagi. Untung saya ingat. Sayapun mengajak 2 teman akrab saya dari BPPT yaitu Pak Syaeful Karim dan Pak Hamdani.

“Ayo Foel, Ham, kita kime-kime di Ch***. Lu bedua kan belon penah ngrasain makanan Mexico kan ? Paling lu biasanya makan pepes ama pecel”, ajakan plus sindiranku mengingat mereka dari Bandung dan Magetan..

“Siip pak, ayo kita berangkat”, kata Cak Ham yang lebih tinggi tapi lebih muda..

Singkat kata, sampailah saya di Ch*** Sarinah. Si manager restoran kebetulan seorang perempuan berwajah setengah Latino tapi ramah sekali. Menyapa “selamat siang” dan “Silahkan mencari tempat duduk, bapak mau yang smoking atau non smoking section ?”, tanyanya.

“Non smoking aja”, kata saya. “Eh mbak, pakai voucher boleh kan ? Nanti kalau kurang saya pakai kartu kredit aja”, tanyaku mengingat 1 kupon nominalnya cuman Rp 50,000.

Saya melihat Daftar Menu yang aduhai. Sayapun manggil mbak tadi, “Mbak, boleh nggak saya memfotocopy menu ini. Wah ini bagus sekali dan informatif sekali lho mbak”, kataku sedikit merayu..

“Oo..kita sudah sediakan versi kecilnya kok pak. Just in case ada customer yang mau seperti bapak ini”, katanya..

Saya memesan “grilled potatoe” dengan “chicken fajita”, makanan Mexico kesukaan saya.

“Sammmmaaa, saya juga pengin yang itu”, kata Cak Ham dan Kang Ifoel hampir berbarengan.

“Untuk minumnya, apa pak ?”, tanya si mbak. “Saya blue margarita saja”, jawab saya merefer ke sejenis minuman Mexico yang amat sangat populer di New York yang memang berwarna biru muda dan berasal dari air pelepah sejenis pohon kelapa ini..

“O, kita nggak punya blue margarita pak, adanya margarita saja dan warnanya merah”, jelas si mbak. Sayapun mahfum karena di New York sendiri emang kekurangan air getah margarita yang berwarna biru muda ini karena jenis minuman ini sudah sangat populer di bar dan kafe dari Miami sampai New York, serta dari San Diego sampai San Fransisco.

“Ya deh saya margarita saja. Untuk bapak berdua ini bikinkah Fruit Punch saja”, perintah saya ke si mbak sambil nyadar bahwa Cak Ham dan Kang Ifoel kadar agamanya lebih kental dari saya dan mereka pasti tidak mau minum yang sedikit mengandung alkohol seperti margarita.

“O..o..nggak..nggak mbak, saya juga pengin minuman seperti yang dipesan Pak Tri Djoko”, kata salah satu dari antara mereka, sayapun lupa itu Cak Ham atau Kang Ifoel..

Singkat kata, makanan dan minumanpun dihidangkan setelah menunggu sekitar 15 menit. Seingat saya, kami makan dengan lahap dan minum dengan ceria. Semua senang. Makan gratis, siapa tak senang..

Ternyata bill-nya kelebihan Rp 15,000. Saya akhirnya bayar cash, tidak jadi pakai kartu kredit lha wong cuman segitu..

Kami bertigapun keluar dari gedung Sarinah dan melenggang menuju kantor yang berjarak 1 blok dan panas sangat terik itu..

Sayapun berjalan lurus, tapi saya perhatikan kedua teman akrab saya tadi sempoyongan….

“Wah, kepalaku kok sedikit pening ya”, kata Cak Ham sambil jalan sedikit miring…

“Saya juga”, kata Kang Ifoel nimpali, diapun berjalan zig-zag..

Saya hanya bisa tersenyum. Salah sendiri, dikasih Fruit Punch yang “aman”, kenapa milih Margarita pula, pikirku dalam hati…

Saya masih terus tersenyum, menyaksikan kedua teman saya bagaikan main di film Jacky Chan “The Drunken Master”..

Ha..ha..ha


0 Responses to “CERITA TEMANKU”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


February 2008
M T W T F S S
    Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Recent Comments

Blog Stats

  • 205,484 hits

%d bloggers like this: